Followers

Nuffnang

Ustaz Moden's Weblog

Posted by Admin Direktori Blog | Posted on 12:16 PG | Posted in

sumber :-

Ustaz Moden's Weblog


Kisah Ulama Wahabi vs Ulama Sunni Bab Air Berkat Kaabah

Posted: 14 Jun 2016 03:57 AM PDT

KISAH INSAFNYA SEORANG ULAMA WAHABI DAN AKHIRNYA MENJADI SEORANG SUFI:-

Syeikh Muhammad Bin Sholih Al-'Utsaimin seorang ulama Wahabi yang sangat terkenal mempunyai seorang guru yang sangat ‘alim dan karismatik di kalangan kaum Wahabi, iaitu Syeikh Abdurrahman Bin Nashir Al-Sa'di, yang dikenal dengan panggilan Syeikh Ibnu Sa'di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling terkenal  adalah karyanya yang berjudul,Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahabi. Meskipun Syeikh Ibnu Sa'di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insaf dan mahu mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, Al-Imam Al-Sayyid 'Alwi Bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani (ayahanda Abuya Al-Sayyid Muhammad Bin 'Alwi Al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjidil Haram bersama halaqah pengajiannya. Sementara di bahagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syeikh Ibnu Sa'di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah sholat dan tawwaf yang mereka lakukan.

Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka'bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang terdiri dari orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para anggota polis Kerajaan Saudi Arabia, yang sebahagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan menganggap bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT. Akhirnya anggota polis itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka'bah itu:

"Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik."

Mendengar teguran anggota polis itu, orang-orang Hijaz itu pun segera menuju ke halaqah Al-Imam Al-Sayyid 'Alwi Al-Maliki Al-Hasani dan menanyakan tentang hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka'bah itu. Ternyata Sayyid 'Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun kembali lagi menuju saluran air di Ka'bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para anggota polis itu. Bahkan mereka berkata kepada anggota polis itu:

"Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid 'Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini."

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, anggota polis itu pun segera mendatangi halaqah Syeikh Ibnu Sa'di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid 'Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan anggota polis yang merupakan anak buahnya itu, Syeikh Ibnu Sa'di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid 'Alwi dan duduk di sebelahnya. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan layaknya seorang ulama, Syeikh Ibnu Sa'di bertanya kepada Sayyid 'Alwi:

" Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka'bah itu ada berkahnya? "

" Benar! Bahkan air tersebut memiliki dua berkah. ” Syeikh Ibnu Sa'di berkata:

" Bagaimana hal itu boleh terjadi? "

" Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan: ”

" Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah. " (QS. 50:9).

Allah SWT juga berfirman mengenai Ka'bah:

" Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah). " (QS. 3:96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka'bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.

Mendengar jawaban tersebut, Syeikh Ibnu Sa'di merasa hairan dan kagum kepada Sayyid 'Alwi. Kemudian dengan penuh kesedaran, mulut Syeikh Ibnu Sa'di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid 'Alwi:

" Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami boleh lalai dari kedua ayat ini.? "

Kemudian Syeikh Ibnu Sa'di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid 'Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halaqah tersebut. Namun Sayyid 'Alwi berkata kepada Syeikh Ibnu Sa'di:

" Tenang dulu wahai Syeikh Ibnu Sa'di. Aku melihat anggota polis itu menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka'bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Tuan melarang mereka. Oleh kerana itu, sekarang bangkitlah Tuan menuju saluran air di Ka'bah itu, lalu ambillah air di situ di depan anggota polis itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain. ”

Akhirnya mendengar saranan Sayyid 'Alwi tersebut, Syeikh Ibnu Sa'di segera bangkit menuju saluran air di Ka'bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu,  ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tingkah laku Syeikh Ibnu Sa'di ini, anggota polis itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.

Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina Al-Imam 'Alwi bin 'Abbas Al-Maliki Al-Hasani. Amin.

Kisah ini disebutkan oleh Syeikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

Ruj : KH Muhammad Idrus Ramli.


Comments (0)